PEMAKAIAN
BAHASA INDONESIA
DALAM
ARTIKEL ILMIAH
Mata
Kuliyah : Teknik Penulisan karya Ilmiah

DI
SUSUN OLEH : KELOMPOK XI
•
SITI AISYAH
DOSEN
PEMBIMBING :
WIRA
SUGIARTO S.IP, M. Pd. I
PRODI
: EKONOMI SYARI’AH
SEKOLAH TINGGI
AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
BENGKALIS
DAFTAR ISI
DAFTAR
I
KATA PENGANTAR............................................................................................... i
DAFTAR ISI............................................................................................................. ii
BAB I
PENDAHULUAN
•
Latar Belakang................................................................................... 1
•
Rumusan Masalah.............................................................................. 1
BAB II PEMBAHASAN
•
Bahasa tulisan ilmiah................................................................................ 2
•
Menggunakan paragraf yang benar.......................................................... 6
•
Kesalahan umum pemakaian
bahasa Indonesia dalam artikel ilmiah... …7
•
Pemilihan kata dan istilah........................................................................ 10
•
Penataan kalimat..................................................................................... 11
•
Penubuhan gaya...................................................................................... 13
BAB III PENUTUP
•
Kesimpulan.................................................................................................... 15
•
Saran............................................................................................................ 15
DAFTAR PUSTAKA
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Penulisan karya ilmiah telah lama menjadi persoalan serius
terutama di perguruan tinggi. Penulisan karya ilmiah yang bertujuan
mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta mengkomunikasikan karya
kreatif dan inovatif kepada masyarakat luas masih belum terlealisasi dengan
baik.
Dalam kamus besar bahasa Indonesia (2001) dijelaskan bahwa
ilmiah adalah bersifat ilmu. Secara ilmu pengetahuan : memenuhi syarat
(kaidahnya) ilmu penegtahuan. Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa
karya tulisan ilmiah adalah karya tulisa yang bersifat keilmuan. Sifat keilmuan
ini terlihat pula dalam penggunaan bahasanya. Ragam bahasa yang digunakan dalam
sebuah karya ilmiah adalah ragam bahasa ilmiah. Ragam bahasa ilmiah merupakan
bahasa dalam dunia pendidikan. Karena penutur ragan bahasa ini adalah orang
yang berpendidikan, bahasa yang digunakan adalah bahasa yang dipelajari
disekolah / institusi pendidikan. Ragam bahasa ini dikenal pula dengan istilah
ragam basa bauku/standar.
Sebagai bahasa baku, terdapat standar tertentu yang harus
dipenuhi dalam penggunaan ragam bahasa ilmiah. Standar tersebut meliputi
penggunaan tata bahasa dan ejaan bahasa Indonesia baku. Tata bahasa Indonesia
yang baku meliputi penggunaan kata, kalimat, dan paragraf yang sesuai dengan
kaidah baku. Kaidah tata bahasa Indonesia yang baku adalah kaidah bahasa
Indonesia sesuai dengan aturan berbahasa yang ditetapkan oleh pusat bahasa
Indonesia. Sementara itu, kaidah ejaan bahasa Indonesia yang baku adalah kaidah
ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan. Sesuai dengan ragam
bahasanya,aturan-aturan ini mengikuti penggunan bahasa dalam karya tulis ilmiah.
B.
Rumusan
Masalah
•
Bagaimana bahasa yang digunakan dalam tulisan ilmiah ?
•
Bagaimana cara menggunakan paragraf yang benar ?
•
Apa saja Kesalahan umum pemakaian bahasa Indonesia dalam artikel ilmiah?
•
Kapan pemilihan kata dan istilah di gunakan ?
•
Bagaimana penataan kalimat ?
•
Apa saja penumbuhan gaya ?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Bahasa
Tulisan Ilmiah
Bahasa tulisan ilmiah merupakan
perpaduan ragam bahasa tulis dan ragam bahasa tulis dan ragam bahasa ilmiah.
Ragam bahasa memiliki empat ciri yaitu :
•
Kosakata yang digunakan dipilih secara cermat
•
Pembentukan kata dilakukan secara sempurna
•
Kalimat dibentuk dengan struktur yang lengkap
•
Paragraph dikembangkan secara lengkap pada (kohesif dan
koheren)
Selain itu, hubungan antar gagasan
terlihat jelas, rapi,dan sistematis. Ragam bahasa ilmiah memiliki cirri
cendikia, lugas, jelas, format, objektif, dan bertolak dari gagasan.
•
Cendekia
Bahasa yang cedekia mampu membentuk
pernyataan yang tepat dan seksama sehingga gagasan yang disampaikan penulis
dapat diterima secara tepat oleh pembaca. Kalimat-kalimat yang digunakan
mencerminkan ketelitian yang objektif sehingga suku-suku kalimatnya mirip
dengan proposisi logika. Karena itu, apabila sebuah kalimat digunakan untuk
mengungkapkan dua buah gagasan yang memiliki hubungan kausalitas, dua gagasan
beserta hubunganya itu harus tampak secara jelas dalm kalimat yang mewadahinya.
Kecendikiaan bahasa juga tampa pada
ketepatan dan kesaksamaan penggunaan kata. Bentukan kata yang dipilih harus di
sesuaikan dengan muatan isi pesan yang akan disampaikan. Selain itu,
kecemdikaan berhubungan dengan kecermatan memilih kata. Suatu kata dipilih
secara cermat apabila kata itu tidak mubazir, tidak rancu, dan besifat
idiomatis. Kecendikiaan juga berhubungan dengan kecermataan memilih kata
seperti : tidak mubazir, tidak rancu, dan bersifat idiomatis.
Hindarkan kekacauan pilihan kata
dalam artikel ilmiah. Kerancuan pilihan kata pada umumnya terjadi karena dua
struktur kalimat yang digabungkan menjadi satu. Membetulkannya perlu
dikembalikan pada struktur asal. Pilih secara cermat kata-kata yang brsifat
idiomatic.
•
Lugas
Bahasa
tulisan ilmiah digunakan menyampaikan gagasan ilmiah secara jelas dan tepat.
Setiap gagasan hendaknya di ungkapkan secara langsung sehingga makna yang
ditimbulkan oleh pengungkapan itu maknanya lugas. Dengan paparan yang lugas
kesalahpahaman dan kesalahan menafsirkan isi kalimat akan terhindarkan.
Penulisan yang bernada sastra cenderung tidak mengungkapkan sesuatu secara
langsung (lugas).
•
Jelas
Artikel
ilmiah ditulis dalam rangka mengomunikasikan gagasan kepada pembaca. Kejelasan
gagasan yang disampaikan perlu mendapat perhatian. Gagasan akan mudah dipahami
apabila dituangkan dalam bahasa yang jelas. Ketidakjelasan pada umumnya akan
muncul pada kalimat yang sangat panjang. Dalam kalimat panjang, hubungan antar
gagasan menjadi tidak jelas. Oleh sebab itu, dalam artikel karya ilmiah
disarankan tidak digunakan kalimat yang terlalu panjang. asalkan penulis cermat
dalam menyusun kalimat sehingga hubunga antar
gagasan dapat diikuti secara jelas.
Membentuk
kalimat yang memiliki gagasan jelas diperlukan kiat khusus. Gagasan yang akan
dituangkan ditata secara sistematis. Dengan tataan itu dapat ditentukan apakah
sebuah gagasan dituangkan dalam sebuah kalimat atau dalam sejumlah kalimat.
Jika gagasan itu cukup dituangkan dalam sebuah kalimat, tidak perlu gagasan itu
dituangkan dalam sejumlah kalimat. Sebaiknya, apabila sebuah gagasan tidak
cukup dituangkan dalam sebuah kalimat, jangan dipaksa dituangkan dalam sebuah
kalimat. Kalimat (1) berisi gagasan yang tidak dapat diungkap dalam sebuah
kalimat. (2) contoh. (3) seharusnya diungkapkan sebagaimana contoh
•
Bertolak dari gagasan
Bahasa
ilmiah digunakan dengan orientasi gagasan. Hal itu berarti, penonjolan
diarahkan pada gagasan atau hal-hal yang diungkapkan, tidak pada penulis.
Akibatnya, pilihan kalimat yang lebih cocok adalah kalimat pasif, sehingga
kalimat aktif dengan penulis sebagai pelaku perlu dihindari.
•
Formal
Artikel
ilmiah merupakan salah satu bentuk komunikasi ilmiah. Bahasa yang digunakan
dalam komunikasi ilmiah bersifat formal. Tingkat keformalan bahasa dalam
artikel ilmiah dapat dilihat pada kosakata, bentuk kata, dan kalimat. Memilih
kata yang formal diperlukan kecermatan agar hinder dari pemakaian kata
informal.
Kosakata
yang digunakan cenderung mengarah pada kosakata ilmiah teknis. Kosakata ilmiah
teknis digunakan pada kalangan khusus, yang jarang dipahami oleh masyarakat
umum. Dalam memilih kosakata dalam menulis artikel ilmiah, perlu kecermatan
agar tidak mengarah pada kata ilmiah popular.
Cirri
formal bahasa tulis ilmiah juga tampak pada bentuk kata. Bentuk kata yang
formal adalah bentuk kata yang lengkap dan utuh sesuai dengan aturan
pembentukan kata dalam bahasa indnesia. Bentuk kata yang tidak formal pada
umumnya terjadi karena pemberian imbuhan yang tidak lengkap, proses
pembentukannya tidak mengikuti bahasa lain.
Keformalan
kalimat dalam artikel ilmiah ditandai oleh yaitu:
•Kelengkapan
unsur wajib
•Ketepatan
penggunaan kata fungsi atau kata tugas
•Kebernalan
isi
•Tampilan
esei formal
Setiap kata tugas memiliki fungsi yang
berbeda. Oleh sebab itu, ketepatan pemakaian kata tugas dalam menulis artikel
ilmiah perlu mendapatkan perhatian. Penulisan kalimat artikel ilmiah harus juga
memiliki kebernalaran isi. Isi kalimat dapat diterima nalar (akal) sehat.
Sebuah kalimat dapat dikatakan memiliki kebernalaran isi apabila gagasan yang
disampaikan dapat dinalarkan dan hubungan antargagasan dalam kalimat dapat
diterima akal sehat. Ada juga didalam kalimat artikel ilmiah harus punya tampilan
esai formal. Dengan cara ini agar mudah mengungkapkan gagasan dilakukan secara
utuh dalam bentuk kalimat diintegrasikan secara langsung dalam sebuah kalimat.
•
Objektif
Upaya yang
dapt ditempuh adalah menempatkan gagasan sebagai pangkal tolak pengembangan
kalimat dan menggunakan kata dan struktur kalimat yang mampu menyampaikan
gagasan secara objektif. Terwujudnya sifat objektif tidak cukup dengan hanya
menempatkan gagasan sebagai pangkal tolak. Sifat objektif juga diwujudkan dalam
penggunaan kata. Kata-kata yang menunjukan sifat subjektif tidak digunakan.
Kata-kata
yang menunjukan sikap ekstrem dapat memberi kesan subjektif dan emosional.
Kata-kata seperti harus, wajib, tidak mungkin, pasti, selalu perluu dihindari. Hindari kata-kata yang menunjukan sifat
subjektif, seperti :
Dari paparan tersebut kiranya dapat disimpulkan:
Dari paparan tersebut kiranya dapat disimpulkan:
•
Ringkas dan padat
Ciri
ringkas dalam bahasa tulis ilmiah direalisasikan dengan tidak adanya
unsur-unsur bahasa yang tidak diperlukan. Hal itu berarti hemat dalam
penggunaan bahasa ilmiah. Sementara itu, cirri pada merujuk pada kandungan
gagasan yang diungkapkan dengan unsur-unsur bahasa itu. Karena itu, jika
gagasan terungkap sudah memadai dengan unsur bahasa yang terbatas tanpa
pemborosan, ciri kepadatan sudah terpenuhi. Dengan demikian, cirri ringkas dan
padat tidak dapat dipisahkan.
•
Konsisten
Unsur
bahasa dan ejaan dalam bahasa tulis ilmiah digunakan secara konsisten. Sekali
sebuah unsure bahasa, tanda baca, tanda-tanda lain, dan istilah digunakan
sesuai dengan kaedah, semua itu digunakan mengantar tujuan dan kata tugas bagi
mengantar objek.
Ragam bahasa merupakan variasi
penggunaan bahasa. Ragam bahasa dapat dibedakan berdasar pada (a) pokok
pembicaraan, (b) media yang digunakan, dan (c) hubungan antara komunikator
dengan komunikan. Selanjutnya dalam tulisan ini hanya akan dibahas ragam bahasa
dari sudut media yang digunakan yakni
ragam bahasa tulis dan dari sudut hubungan antara komunikator dengan
komunikan.Dilihat dari hubungan komunkator dan komunikan, perbedaan ragam
bahasa tulis dan ragam lisan ada dua macam. Pertama berhubungan dengan
peristiwanya, yakni bila digunakan ragam tulis partisipan tidak berhadapan
secara langsung. Akibatnya bahasa yang digunakan harus lebih jelas sebab
berbagai sarana pendukung yang digunakan dalam bahasa lisan seperti isyarat,
pandangan dan aggukkan tidak dapat digunakan. Itulah sebabnya mengapa ragam
tulis lebih cermat. contoh : Untuk
mengatasi penumpang yang melimpah menjelang dan usai lebaran, pengusaha
angkutan dihimbau mengoprasikan semua telah disiapkan kendaraan ekstra.
Pada
ragam tulis, fungsi subjek, predikat, objek dan keterangan serta hubungan antar
fungsi itu harus nyata. Pada ragam lisan partisipan pada umumnya bersemuka
sehingga fungsi-fungsi itu kadang terabaikan. Meskipun demikian, mereka dapat
saling memahami maksud yang dikemukakan karena dibantu dengan unsur
paralinguistik. Orang yang halus rasa bahasanya sadar bahwa kalimat ragam tulis
berbeda dengan ragam ujaran. Oleh karena itu, sepatutnya mereka berhati-hati
dan berusaha agar kalimat yang ditulis ringkas dan jelas. Bentuk akhir ragam
tulis tidak jarang merupakan hasil beberapa kali penyuntingan. Hal kedua yang
membedakan ragam tulis dan lisan berkaitan dengan beberapa upaya yang digunakan
dalam ujaran, misalnya tinggi rendah, panjang pendek, dan intonasi kalimat yang
tidak terlambang dalam tata tulis maupun ejaan. Dengan demikian, penulis perlu
merumuskan kembali kalimatnya jika ingin menyampaikan jangkauan makna yang sama
lengkapnya. Lain halnya dengan ragam lisan, penutur dapat memberikan tekanan
atau jeda pada bagian tertentu agar maksud ujarannya dapat dipahami. Jadi,
ragam bahasa tulis memiliki karakteristik khusus dibandingkan ragam bahasa
lisan. Karakteristik tersebut adalah
(1) ragam bahasa tulis memiliki banyak penanda metalingual,
(2) kalimat
berstruktur lengkap, dan
(3) klausanya
sederhana tetapi memiliki kepadatan kata dan isi.
Contoh : Nilai etis sebagaimana tersebut pada paparan di
atas menjadi pedoman dan dasar pegangan hidup dan kehidupan bagi setiap warga
Negara Indonesia.
B.
Menggunakan
Paragraf Yang Benar
Banyak ilmuan Indonesia tak dapat mengunakan
paragraph secara efektif. Kegagalan ini terjadi karena tida dipahaminya fungsi
paragraf sebagai pemersatu kalimat yang koheren serta berhubungan secara sebab
dan akibat menjelaskan suatu kesatuan gagasan atau tema. Oleh karena itu,
sering dijumpai tulisan sukar dipahami, sebab tidak jelas pemisahan
bagian-bagiannya dalam menghasilkan argument yang menyakinkan. Kesulitan
seseorang memulai menulis juga disebabkan oleh tidak diketahuinya adanya fungsi
paragraph pembuka, paragraf penghubung, serta paragraph penutup.
Dapat diduga, keberhasilan penguasaan
paragraph sangat ditentukan oleh kerapian penempatan kalimat yang tepat dalam
paragraph. Karena itu, perlu diidentifikasi kalimat pokok suatu paragraf yang
menentukan jiwa keseluruhan paragraf. Kalimat pokok ini dapat diletakkan di
awal, ditengah, atau pun sebagai penutup paragraf. Kalimat pendukung dapat
disusun untuk menjelaskan labih lanjut kalimat pokok yang dijadikan pembuka
paragraf. Kalimat pendukung dapat dibuat bertumpuk menuju suatu simpulan laogis
yang terpumpun dalam kalimat penyimpul pada akhir paragraf.
Setiap penulisan harus dapat mengendalikan
panjang paragraf berdasarkan beberapa pertimbangan yang ditentukan oleh masalah
yang ditulis. Paragraf pendek mudah
dipahami, dan efektif, namun ada ahli yang menyarankan, jangan terlalu sering
memakai paragraf pendek. Penampilan paragraf dalam halaman juga perlu di perhatikan,
sebab satu paragraf yang panjang dan memenuhi seluruh halaman tidak
menggalakkan pembacaan.
Menurut basuki penggunaan paragraph di
dalam artikel ilmiah memiliki tiga syarat yaitu:
•Kesatuan
•Kesistematisan
dan kelengkapan
•Kepaduan.
Suatu
paragraf dinyatakan memenuhi syarat kebutuhan apabila paragraph itu hanya
mengandung suatu gagasan pokok. Gagasan itu dinyatakan dalam kalimat topic.
Dalam artikel ilmiah kalimat topic biasanya terletak pada awal pargraf.
Ide pokok
dan ide-ide penjelas dalam paragraf yang baik ditata secara sisitematis.
Pengurutan ide dalam suatu paragraf dapat dilakukan dengan cara, yaitu secara
alamiah dan secara logis. Urutan alamiah berupa urutan waktu (kronologis) dan
ruang (sudut pandang), sedangkan urutan logis urutan klimaks-antiklimak,
sebab-akibat, umum-khusus, pokok rincian, dikenal tidak dikenal, dan
mudah-sulit.
Kalimat pokok yang mengandung ide pokok harus
dikembangkan dan dijelaskan agar dapat terbentuk sebuah paragraph. Pengembangan
itu seharusnya digarap secara lengkap agar pembaca tidak bertanya-tanya lagi
setelah membaca paragraph yang telah dikembangkan. Perbedaan antara kesatuan
dan kepaduan bahwa, kesatuan lebih banyak beruhubungan dengan ide-ide bawahan
yang mendukung ide-ide pokok paragraph. Jika ide bawahan mendukung ide pokok,
maka paragraph dapat dikatakan tidak memiliki kesatuan. Kepaduan lebih banyak
berhubungan dengan penataan dan penyusunan ide bawahan untuk menompang ide
pokok paragraph. Jika susunan dan tataan ide pokok dalam paragraph besifat
runtut maka paragraph dapat dikatakan memiliki kepaduan. Jika ssusunan dan
tataan ide pokok dalam paragraph bersifat kacau, maka paragraph dapat dikat
C.
Kesalahan
Umum Pemakaian Bahasa Indonesia Dalam Artikel Ilmiah
Kesalahan pemakaian bahasa Indonesia dalam
artike ilmiah pada umumnya berkaitan dengan sebagai berikut :
•
Kesalahan penalaran
Kesalahan penalaran yang biasa terjadi
dibedakan menjadi dua yaitu penalaran intrakalimat dan kesalahan antar kalimat.
Kesalahan intrakalimat tampak dari adanya hubungan logis antar elemen/antar
bagian kalimat sebagaimana contoh berikut :
• Dengan
penelitian ini dapat meningkatkan kretivitas mahasiswa
•Berdasarkan
uraian diatas menunjukan pentingnya pendidikan orang dewasa.
Hubungan
pokok dan penjelas atau subjek dan predikat pada kalimat (1) (2) tidak jelas sehingga kedua kalimat itu dapat
dikategorikan kalimat yang tidak bernalar. Karena kalimat (1) tidak tau apa
yang dibicarakan, apa yang dapat meningkatkan kreativitas mahasiswa. Jawabannya
tentu bukan dengan penelitian ini. Demikian juaga pada kalimat (2), apa yang
menunjukan pentingnya pendidikan orang dewasa. Jawabanya tentu bukan
berdasarkan uraian di atas. Hal itu dapat terjadi karena kalimat (1) dan (2)
tidak memiliki pokok dan subjek.
Kesalahan penalaran antarkalimat tampak pada tidak log Kesalahan penalaran yang biasa terjadi dibedakan menjadi
dua yaitu kesalahan isnya hubungan kalimat satu dengan kalimat yang lain dalam
membentuk teks.
Problema utam pengelolaan jurnal ilmiah adalah
kelangkaan naskah dan kelengkapan dana. Oleh sebab itu, naskah perlu dikelola
secara professional. Pengelolaan yang prfesional akan menjadikan sebuah jurnal
menjadi berkilau.
•
Kerancauan
Kerancauan
terjadi karena penerapan dua kaidah atau lebih. Kerancauan dapat dipilah atas
kerancauan bentuk kata dan kerancauan kalimat. Kerancauan bentukan kata terjadi
apabila dua kaidah bentukan diterapkan dalam sebuah bentuk kata. Kerancauan itu
muncul pada saat penulis kebingungan terhadap kaidah yang dipakai dalam sebuah
kalimat. Kerancauan juga sering terjadi pada redaksi perujukan. Penulis sering
bingung terhadap redaksi rujukan yang berpola menurut. contoh :
Memperlebarkan-Memperlebar. Dan lain sebagainya <> dan lain-lain / dan sebagainya
Memperlebarkan-Memperlebar. Dan lain sebagainya <> dan lain-lain / dan sebagainya
•
Pemborosan
Pemborosan timbul apabila ada unsure yang
tidak berguna dalampenggunaan bahasa. Pengujiannya dapat dilakukan dengan
teknik penghilangan. Apabila sebuah dihilangkan dan gagasan yang diunggkapkan
tidak terganggu, maka unsur tersebut dapat dikategorikan unsur yang mubazir.
Pemborosan dapat terjadi pada kata-kata dan kalimat bahkan mungkin paragraf.
Pemborosan kalimat dapat terjadi apabila suatu
kalimat tidak memiliki fungsi mengungkapkan gagasan. Gagasan kalimat itu sudah
terwadahi dalam kalimat sebelum atau sesudahnya . contoh
Data yang digunakan untuk menjawab semua permasalahan yang ada dalam penelitian ini dapat dipilah menjadi dua, yaitu data utama dan data penunjang.
Data yang digunakan untuk menjawab semua permasalahan yang ada dalam penelitian ini dapat dipilah menjadi dua, yaitu data utama dan data penunjang.
•
Ketidaklengkapan kalimat
Sebuah kalimat dikatakan lengkap apabila
setidak-tidaknya memiliki pokok dan penjelas atau subjek dan prediket.
Kemungkinan kamimat menjadi tidak lengkap terjadi karena penulis mampu
mengendalikan gagasan yang kompleks.
•
Kesalahan kalimat pasif
Kesalahan pembentukan kalimat pasif
yang sering dilakukan para penulis adalah kesalahan pembentukan kalimat pasif
yang berasal dari kalimat aktif intransitif. Kalimat aktif intransititif tidak
bisa diubah menjadi kalimat pasif dengan tepat mempertahankan maknanya.
Paragraf yang baik memperhatikan fakta kesatuan topik. kepaduan bentuk-makna,
dan kelengkapan gagasan. Satu paragraf hanya menyajikan satu topik atau
satugagasan, tidak boleh lebih. Kalimat-kalimat dalam paragraf dapat diikat
dengan katahubung, kata ganti, atau kata kunci. Kalimat-kalimat tersebut harus
saling mendukungkesatuam gagasan. Kalimat topik paragraf harus dirinci dengan
beberapa kalimat penjelas.Paragraf yang hanya terdiri atas satu kalimat topik
harus dihindari.Paragraf 1 dan paragraf 2 merupakan paragraf yang tidak baik.
Paragraf 1hanya terdiri atas satu kalimat topik. tanpa ada kalimat penjelas.
Paragraf 2 memuat dua gagasan yang berbeda. Oleh karena itu, paragraf 1 harus
dikembangkan dengan beberapa kalimat penjelas. Dua kalimat topik pada paragraf
2 masing-masing harus dikembangkan menjadiparagraf baru yang terpisah.
•
Perguruan tinggi baik negeri maupun swasta di mana perguruan
tinggi sebagai
pembinanya merupakan lembaga pendidikan tinggi yang memiliki
tingkat
tanggung jawab lebih besar dibandingkan dengan lembaga
pendidikan lainnya
dalam mengubah sumber daya manusia Indonesia menjadi sumber
daya yang
mampu bersaing di tingkat internasional.
•
Dalam menghadapi era globalisasi saat ini dan di kemudian
hari peranan sumber daya manusia suatu bangsa sangat menentukan keberhasilan
bangsa tersebut untuk bersaing dengan bangsa-bangsa lainnya di dunia. Kualitas
sumber daya manusia suatu bangsa sangat ditentukan oleh bagaimana sumber daya
manusia tersebut dididik baik oleh lingkungannya maupun oleh lembaga pendidikan
mulaisekolah dasar sampai perguruan tinggi untuk menjadi sumber daya manusia
yang unggul dalam menghadapi persaingan.
•
Menulis Kalimat yang Tidak Utuh
Bahasa karya ilmiah Bahasa Indonesia
yang baku menurut standar ilmiah yang mengacu pada Kamus Umum Bahasa Indonesia,
Ejaan Yang Disempurnakan, Pedoman Umum Pembentukan Istilah dan
suplemen-suplemen terbaru. Menulis karya ilmiah yang komunikatif sangat penting
agar tujuan yang ingin disampaikan dapat dipahami dengan jelas dan jernih.
Beberapa
kesalahan kalimat, yang disebabkan oleh :
•
Menulis kalimat yang tidak utuh
•
Pemakaian bentuk kata yang rancu
•
Pemakaian keterangan yang tidak lengkap
•
Urutan kata yang menyalahi aturan berbahasa Indonesia
•
Pemakaian kata atau ungkapan penghubung yang tidak tepat
•
Pemakaian bentuk dan pilihan kata yang tidak cermat.
D.
Pemilihan
Kata Dan Istilah
Seorang terpelajar diharapkan menguasai
kosakata umum serta seperangkat peristilahan bidang ilmu yang ditekuninya. Ia
pun diharuskan mengetahui tata pertimbangan, akronim dan singkatan, beserta
satuan ukuran yang lazim dipakai oleh bidang spesialisasinya. Pemakaian kosa
kata dan peristilahan terpilih menentukan corak dan mutu keteknisan tulisannya.
Semakin tinggi jumlah kosakata yang dipakai berarti bertambah banyak istilah
teknisnya sehinggan semakin ilmiah sifat tulisan.
Perbaikan khazanah kosakata dapat dicapai
dengan jalan banyak membaca, lalu mempelajari kata kata yang sulit dengan
pertolongsn kamus. Jika kita melihat kata hutan dalam kamus, akan terungkap
beberapa macam makna yang dimilikinya. Jadi dengan bantuan kamus umum dan kamus
istilah, akan dapat dketahui jenis, medan makna, variasi, cara pemakaian dan
penjabaran kata untuk kemudian dipahami dan dikuasai dengan baik.
Kata
memiliki medan makna dengan corak, nuansa, dan kekuatan yang berbeda-beda
misalnya :Salah, Kurang tepat, tidak benar, keliru, semuanya memiliki makna
yang sama tetapi penggaruh pemakaiannya amat berlainan. Juga misalnya kata-kata
yang bersinonim : ongkos, sewa, upah, belanja, biaya, anggaran.
Contoh lain : kata hutan dapat berfungsi sebagai kata benda (hutan jati), kata kerja (menghutankan), atau kata sifat (menghutan, ayam hutan).
Contoh lain : kata hutan dapat berfungsi sebagai kata benda (hutan jati), kata kerja (menghutankan), atau kata sifat (menghutan, ayam hutan).
Pemekaran jumlah kosa kata yang dikuasi
seseorang akan memungkinkannya mengatasi salah satu kendala utama dalam
menulis, yaitu menemukan kata yang tepat. Kamus umum, kamus sinonim, thesaurus
dan kamus istilah yang paling tebal yang dapat ditemukan, harus selalu tersedia
di samping dan penyuntingan. Berbekalkan semua sarana penolong ini dapat tumbuh
kemampuan mengukur kekuatan, ketelitian memilih, dan kepiawaian menyusun kata,
yang akan menghasilkan tulisan ilmiah yang hidup dan berpotensi menjadi sebuah adikarya.
E.
Penataan
Kalimat
Kalimat
Indonesia mempunyai sifat pendek, pasif, dan sederhana. Susunannya sering dapat
diputarbalikan dengan mempermutasikan tempat kata-katanya tanpa mengubah
artinya, kecuali dalam penekanan pemaknaan pesannya. Seperti bahasa lain
didunia, rangkaian kata Indonesia terkait akan menghasilkan frasa, yang mungkin
berkembang menjadi klausa sebagai bagian suatu kalimat yang lebih kompleks
strukturnya. Betapa pun panjang atau pendek susunan kata yang terlibat,
kamlimat yang dihasilkan akan dikatakan baik kalau memilki kesatuan pikiran
yang bulat dan utuh, serta terdapat koherensi unsurnya. Oleh karena itu,
kalimat yang sempurna akan mampu berdiri sendiri terlepas dari konteksnya,
serta mudah dipahami maksudnya. Kalimat seperti ditemuka dalam suatu makalah
perencanaan wilayah yang berbunyi ‘’ Terhadap jalan yang lebih lebar ukurannya
dan jumlah pohon peneduhnya berbeda caranya’’ bukanlah merupakan contoh untuk
ditiru. Kallimat tersebut tidak efktif sebab tidak dapat menjelaskan secara
lugas jalan pikiran penulisnya.
Kalimat bahasa Indonesia yang baku mempunyai
cirri-ciri selalu dipakai perangkat kabahasaan berikut secara tegas dan bertaat
asas.
•
Subjek dan predikat – ( para peneliti pergi ke lapangan
percobaan vs para peneliti ke lapangan percobaan )
•
Awalan ber- dan me – ( Peneliti sudah berjalan dengan baik
vs penelitian sudah jalan dengan baik )
•
Konjungsi bahwa dan karena – ( Disadari bahwa data belum
terkumpul semua vs Disadari data yang belum terkumpul semua )
•
Pola aspek + agen + verba – ( pernapasan daun sudah saya
amati vs pernapasan daun saya sudah amati )
•
Konstruksi sintaksis - (harganya vs dia punya harga,
membersihkan vs bikin bersih)
•
Partikel –kah dan pun
– ( bagaimanakah cara menarik kesimpulan? Selain penelitian partisipasi,
percobaan lapangan pun dilakukan pula olehnya )
•
Ejaan, kosakata, istilah resmi sehingga diperoleh kalimat
yang bersih dari unsure daerah dan bahasa asing yang belum dianggap merupakan
warga bahasa Indonesia.
Penjagaan
kebersihan kalimat bahasa Indonesia baku dari kontaminasi unsure asing mudah
dilakukan kalau hanya menyangkut penggunaan istilah asing secara utuh (misalnya
penggunaan pink ditempat jambon, atau marketing alih-alih pemasaran ). Akan
tetapi penyiangan yang lebih harus dilaksanakan kalau dihadapi penerapan kaidah
tata bahasa asing dalam kalimat Indonesia.
Kekurang
cermatan pemahaman fungsi kata dalam kalimat sering menghasilkan kalimat yang
rancu. Bentuk ‘’Penalaahan ini membicarakan tentang kerusakan pascapanen’’
tidak merupakan susunan kalimat yang baik, sebab pernyataan itu harus dikatakan
‘’penelaahan ini membicarakan kerusakan pascapanen’’. Kalau mau juga
menggunakan kata tentang tulislah menjadi bentuk ‘’Telaahan ini berbicara
tentang kerusakan pascapanen’’. Kesalahan lain yang sering dijumpai adalah
penalaran yang tidak logis.
Keefektifan kalimat akan ditingkatkan jika
kita mampu mencari variasi pemilihan kata serta keragaman konstruksinya.
Penetapan kata atau ungkapan yang tidak biasa pada posisi yang tepat dapat
membuat kalimat lebih segar. Begitu pula dilakukannya repetisi (alat berkembang
biak, alat infeksi, alat pemencaran) dan pertentangan (tidak jauh ke air,
tetapi ke tanah) akan menghidupkan kalimat. Karena kalimat Indonesia tidak
selamanya harus dimulai oleh subjek, peluang yang terbuka member kemungkinan
membut variasi untuk menjauhi kemonotonan. Keterangan tempat dan waktu,
partikel penghubung, kata kerja dan frasa lain dapat ditampilkan secara
bersilih ganti sebagai pembuka kalimat-kalimat beruntun.
Kalimat dapat lebih efektif bila beberapa
kalimat pendek digabung, dan bagian-bagian yang setara disejajarkan atau
dipertentangkan atau disusun dengan menekankan hubungan sebab-akibat. Akan
tetapi penggabungannya harus dilakukan secara berhati-hati agar tidak terjadi
ekses sehingga kalimat menjadi berkepanjangan, dan maksudnya tidak langsung
dapat ditangkap. Untuk itu, tanda baca yang tersdia hendaklah dimanfaatkan
sepenuhnya. Akan tetapi perlu ditekankan sekali lagi bahwa suatu kalimat yang
terlalu banyak memakai tanda baca umumnya menunjukan keperluan untuk menulisnya
kemballi.
F.
Penumbuhan
Gaya
Pada
dasarnya, terdapat tiga gaya bahasa yang berturut-turut dipakai untuk
mengungkapkan luapan perasaan atau emosi yang sering tak terkendali, menyatakan
kemauan secara otoriter atau imperatif, dan menyampaikan hasil pemikiran yang
berasio. Ilmu memang menghendaki keteraturan dan kemapanan penalaran yang
mengharuskan dilakukannya perumusan konsep-konsep secara ketat sehingga hanya
terjadi suatu pegertian tunggal.
Sudut pandang dan pendekatan pada masalah yang
menjadi inti tulisan dapat memengaruhi gaya yang di anut. Sifat kerendahan hati
dan jiwa ketimuran yang dijunjung tinggi orang Indonesia telah menyebabkan membakunya pemakaian kalimat
pasif. Penggunaan kalimat pasif dalam tulisan ilmiah memang memiliki keuntungan
karena terpakainya orang ketiga sebagai pelaku, sehingga mudah menceritakan
kegiatan yang sering terjadi secara objektif tanpa kesan berpihak. Penggunaan
orang kedua, baik yang dinyatakan secar tegas maupun tidak dituliskan, sangat
sesuai dengan dalam penulisan buku pegangan, untuk memberikan pengarahan,
petunjuk atau bimbingan yang bergaya imperative. Kalimat aktif yang bertumpu
pada orang pertama merupakan cara paling alamiah untuk mengungkapkan kegiatan
yang sudah dilakukan, terutama yang memerlukan kesubjektifan.
Pola ini sangat membudaya didunia barat, yang
sangat menghormati hak-hak individu bagi mereka sangatlah penting untuk
menonjolkan hak cipta, hak kepengarangan, dan hak kepemilikan intelektual suatu
trobosan dalam pemancuan ilmu dan teknologi modern. Dalam kaitan ini wacana
yang dipakai sebagai pendekatan untuk menyampaikan wujud jiwa karangan ikut
memengaryhi corak gaya penyajian dan penulisannya. Karya ilmia umumny disajikan
dengan bentuk paparan atau eksposisi dengan mengetengahkan segala segi
persoalan yang diadapisecara teratur, logis, dan saling bertautan secara objek.
Akan tetapi sebagai latar belakang fakta-fakta pendukung sering perlu
diperhatikan atau dideskripsikan seandainya dan setepatnya. Bahkan terkadang
diperlukan pengisahan atau narasi untuk memperjelaskan rentetan perkembangan
seputar persoalan yang dihadapi secara kronologi. Pola argumentasi bisa dipakai
dalam membahas hasil yang disentesis dari rangkaian kegiatan penelaahan,
pengamatan atau penelitian untuk penggiring pembaca ke suatu simpulan dan
pendapat yang dikembangkan penulis. Dari sini terlihat bahwa hampir semua
bentuk wacana terjalin sangat erat sehigga keefektifan penguasaannya sangat
menentukan keberjayaan gaya yang membuahkan karya ilmia yang dihasilkan.
Gaya beremosi memang selalu disarankan agar
dihindari dalam karya ilmiah, apalagi kalau dipakai untuk menyakinkan pembaca
akan keunggulan temuan atau kelebihan simpulan yang dicapai. Oleh karena itu,
jauhilah ungkapan seperti ‘’ simpulan amat berarti’’, atau ‘’ hasil yang sangat
bermakna’’. Alih-alih menyatakan bahwa yang akan diceritakan itu menarik,
buatlah hal itu betul-betul menarik.
BAB
III
PENUTUP
•
Kesimpulan
Pengguna
bahasa dalam artikel ilmiah memiliki gaya dan sistematika yang berbeda dengan
jenis tulisan lainnya seperti buku, skripsi, dan sebagainya. Menulis artikel
ilmiah dapat diumpamakan seperti sebuah bangunan yang akan didirikan menurut
rancangan atau desain yang telah ditentukan. Proses penulisannya mengunakan
syarat-syarat dan karakteristik ragam bahasa. Sebagai bahasa standar, ada
aturan-aturan tata bahasa dan pedoman ejaan yang perlu diikuti. Standar
berbahasa yang perlu diperhatikan dalam ragam bahasa ini meliputi pemilihan
kata yang tepat, dan efektif, kepaduan paragraf, dan pedoman penulisan.
• Saran
Suatu pembuatan teknik penulisan karya ilmiah
harus sesuai dengan relita dan kami sadar bahwa penyusunan karya ilmiah ini kurang sempurna. Maka dari
itu kami mohon kritikan dan saran dari teman-teman semua. Agar kedepannya kami
bisa lebih baik lagi.
•
DAFTAR PUSTAKA
•
Tanjung. Nut Bahdin. Dan Ardial. 2005. Panduan karya ilmiah.
Jakarta : Penerbit Kencana Pernada Media Group.
•
Utoredewo, fellcia N. (2003) : Makalah Materi Bahasa
Indonesia: Sebuah Pengantar Penulis Ilmiah.
•
Rifal, Mlen A. (1995) : pegangan Gaya Penulis, Penyuntingan,
dan Penebitan Karya Ilmiah Indonesia. Yogyakarta. Gajah Mada University Press.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar