Kamis, 21 Januari 2016

teknik penulisan karya ilmiah



                     PEMAKAIAN BAHASA INDONESIA     
DALAM ARTIKEL ILMIAH
Mata Kuliyah : Teknik Penulisan karya Ilmiah



                                    DI SUSUN OLEH : KELOMPOK XI

         SITI AISYAH


DOSEN PEMBIMBING :
WIRA SUGIARTO S.IP, M. Pd. I

                                                PRODI : EKONOMI SYARI’AH
SEKOLAH  TINGGI  AGAMA ISLAM  NEGERI (STAIN)
                                    BENGKALIS
                                   



DAFTAR  ISI
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      DAFTAR I
KATA PENGANTAR............................................................................................... i         
DAFTAR ISI............................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN
         Latar Belakang................................................................................... 1
         Rumusan Masalah.............................................................................. 1
BAB II PEMBAHASAN
         Bahasa tulisan ilmiah................................................................................ 2
         Menggunakan paragraf yang benar.......................................................... 6
         Kesalahan umum pemakaian  bahasa Indonesia dalam artikel ilmiah... …7
         Pemilihan kata dan istilah........................................................................ 10
         Penataan kalimat..................................................................................... 11
         Penubuhan gaya...................................................................................... 13
BAB III PENUTUP
         Kesimpulan.................................................................................................... 15
         Saran............................................................................................................ 15
DAFTAR PUSTAKA




BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Penulisan karya ilmiah telah lama menjadi persoalan serius terutama di perguruan tinggi. Penulisan karya ilmiah yang bertujuan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta mengkomunikasikan karya kreatif dan inovatif kepada masyarakat luas masih belum terlealisasi dengan baik.
Dalam kamus besar bahasa Indonesia (2001) dijelaskan bahwa ilmiah adalah bersifat ilmu. Secara ilmu pengetahuan : memenuhi syarat (kaidahnya) ilmu penegtahuan. Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa karya tulisan ilmiah adalah karya tulisa yang bersifat keilmuan. Sifat keilmuan ini terlihat pula dalam penggunaan bahasanya. Ragam bahasa yang digunakan dalam sebuah karya ilmiah adalah ragam bahasa ilmiah. Ragam bahasa ilmiah merupakan bahasa dalam dunia pendidikan. Karena penutur ragan bahasa ini adalah orang yang berpendidikan, bahasa yang digunakan adalah bahasa yang dipelajari disekolah / institusi pendidikan. Ragam bahasa ini dikenal pula dengan istilah ragam basa bauku/standar.
Sebagai bahasa baku, terdapat standar tertentu yang harus dipenuhi dalam penggunaan ragam bahasa ilmiah. Standar tersebut meliputi penggunaan tata bahasa dan ejaan bahasa Indonesia baku. Tata bahasa Indonesia yang baku meliputi penggunaan kata, kalimat, dan paragraf yang sesuai dengan kaidah baku. Kaidah tata bahasa Indonesia yang baku adalah kaidah bahasa Indonesia sesuai dengan aturan berbahasa yang ditetapkan oleh pusat bahasa Indonesia. Sementara itu, kaidah ejaan bahasa Indonesia yang baku adalah kaidah ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan. Sesuai dengan ragam bahasanya,aturan-aturan ini mengikuti penggunan bahasa dalam karya tulis ilmiah.

B.     Rumusan Masalah
         Bagaimana bahasa yang digunakan dalam tulisan ilmiah ?
         Bagaimana cara menggunakan paragraf yang benar ?
         Apa saja Kesalahan umum pemakaian  bahasa Indonesia dalam artikel ilmiah?
         Kapan pemilihan kata dan istilah di gunakan ?
         Bagaimana penataan kalimat ?
         Apa saja penumbuhan gaya ?

BAB II
                                                            PEMBAHASAN
A.    Bahasa Tulisan Ilmiah
Bahasa tulisan ilmiah merupakan perpaduan ragam bahasa tulis dan ragam bahasa tulis dan ragam bahasa ilmiah. Ragam bahasa memiliki empat ciri yaitu :
               Kosakata yang digunakan dipilih secara cermat
               Pembentukan kata dilakukan secara sempurna
               Kalimat dibentuk dengan struktur yang lengkap
               Paragraph dikembangkan secara lengkap pada (kohesif dan koheren)
Selain itu, hubungan antar gagasan terlihat jelas, rapi,dan sistematis. Ragam bahasa ilmiah memiliki cirri cendikia, lugas, jelas, format, objektif, dan bertolak dari gagasan.
         Cendekia
Bahasa yang cedekia mampu membentuk pernyataan yang tepat dan seksama sehingga gagasan yang disampaikan penulis dapat diterima secara tepat oleh pembaca. Kalimat-kalimat yang digunakan mencerminkan ketelitian yang objektif sehingga suku-suku kalimatnya mirip dengan proposisi logika. Karena itu, apabila sebuah kalimat digunakan untuk mengungkapkan dua buah gagasan yang memiliki hubungan kausalitas, dua gagasan beserta hubunganya itu harus tampak secara jelas dalm kalimat yang mewadahinya.
Kecendikiaan bahasa juga tampa pada ketepatan dan kesaksamaan penggunaan kata. Bentukan kata yang dipilih harus di sesuaikan dengan muatan isi pesan yang akan disampaikan. Selain itu, kecemdikaan berhubungan dengan kecermatan memilih kata. Suatu kata dipilih secara cermat apabila kata itu tidak mubazir, tidak rancu, dan besifat idiomatis. Kecendikiaan juga berhubungan dengan kecermataan memilih kata seperti : tidak mubazir, tidak rancu, dan bersifat idiomatis.
Hindarkan kekacauan pilihan kata dalam artikel ilmiah. Kerancuan pilihan kata pada umumnya terjadi karena dua struktur kalimat yang digabungkan menjadi satu. Membetulkannya perlu dikembalikan pada struktur asal. Pilih secara cermat kata-kata yang brsifat idiomatic.
         Lugas
Bahasa tulisan ilmiah digunakan menyampaikan gagasan ilmiah secara jelas dan tepat. Setiap gagasan hendaknya di ungkapkan secara langsung sehingga makna yang ditimbulkan oleh pengungkapan itu maknanya lugas. Dengan paparan yang lugas kesalahpahaman dan kesalahan menafsirkan isi kalimat akan terhindarkan. Penulisan yang bernada sastra cenderung tidak mengungkapkan sesuatu secara langsung (lugas).
         Jelas
Artikel ilmiah ditulis dalam rangka mengomunikasikan gagasan kepada pembaca. Kejelasan gagasan yang disampaikan perlu mendapat perhatian. Gagasan akan mudah dipahami apabila dituangkan dalam bahasa yang jelas. Ketidakjelasan pada umumnya akan muncul pada kalimat yang sangat panjang. Dalam kalimat panjang, hubungan antar gagasan menjadi tidak jelas. Oleh sebab itu, dalam artikel karya ilmiah disarankan tidak digunakan kalimat yang terlalu panjang. asalkan penulis cermat dalam menyusun kalimat sehingga hubunga       antar gagasan dapat diikuti secara jelas.
Membentuk kalimat yang memiliki gagasan jelas diperlukan kiat khusus. Gagasan yang akan dituangkan ditata secara sistematis. Dengan tataan itu dapat ditentukan apakah sebuah gagasan dituangkan dalam sebuah kalimat atau dalam sejumlah kalimat. Jika gagasan itu cukup dituangkan dalam sebuah kalimat, tidak perlu gagasan itu dituangkan dalam sejumlah kalimat. Sebaiknya, apabila sebuah gagasan tidak cukup dituangkan dalam sebuah kalimat, jangan dipaksa dituangkan dalam sebuah kalimat. Kalimat (1) berisi gagasan yang tidak dapat diungkap dalam sebuah kalimat. (2) contoh. (3) seharusnya diungkapkan sebagaimana contoh
         Bertolak dari gagasan
Bahasa ilmiah digunakan dengan orientasi gagasan. Hal itu berarti, penonjolan diarahkan pada gagasan atau hal-hal yang diungkapkan, tidak pada penulis. Akibatnya, pilihan kalimat yang lebih cocok adalah kalimat pasif, sehingga kalimat aktif dengan penulis sebagai pelaku perlu dihindari.

         Formal
Artikel ilmiah merupakan salah satu bentuk komunikasi ilmiah. Bahasa yang digunakan dalam komunikasi ilmiah bersifat formal. Tingkat keformalan bahasa dalam artikel ilmiah dapat dilihat pada kosakata, bentuk kata, dan kalimat. Memilih kata yang formal diperlukan kecermatan agar hinder dari pemakaian kata informal.
Kosakata yang digunakan cenderung mengarah pada kosakata ilmiah teknis. Kosakata ilmiah teknis digunakan pada kalangan khusus, yang jarang dipahami oleh masyarakat umum. Dalam memilih kosakata dalam menulis artikel ilmiah, perlu kecermatan agar tidak mengarah pada kata ilmiah popular.
Cirri formal bahasa tulis ilmiah juga tampak pada bentuk kata. Bentuk kata yang formal adalah bentuk kata yang lengkap dan utuh sesuai dengan aturan pembentukan kata dalam bahasa indnesia. Bentuk kata yang tidak formal pada umumnya terjadi karena pemberian imbuhan yang tidak lengkap, proses pembentukannya tidak mengikuti bahasa lain.
Keformalan kalimat dalam artikel ilmiah ditandai oleh yaitu:
Kelengkapan unsur wajib
Ketepatan penggunaan kata fungsi atau kata tugas
Kebernalan isi
Tampilan esei formal
  Setiap kata tugas memiliki fungsi yang berbeda. Oleh sebab itu, ketepatan pemakaian kata tugas dalam menulis artikel ilmiah perlu mendapatkan perhatian. Penulisan kalimat artikel ilmiah harus juga memiliki kebernalaran isi. Isi kalimat dapat diterima nalar (akal) sehat. Sebuah kalimat dapat dikatakan memiliki kebernalaran isi apabila gagasan yang disampaikan dapat dinalarkan dan hubungan antargagasan dalam kalimat dapat diterima akal sehat. Ada juga didalam kalimat artikel ilmiah harus punya tampilan esai formal. Dengan cara ini agar mudah mengungkapkan gagasan dilakukan secara utuh dalam bentuk kalimat diintegrasikan secara langsung dalam sebuah kalimat.

         Objektif
Upaya yang dapt ditempuh adalah menempatkan gagasan sebagai pangkal tolak pengembangan kalimat dan menggunakan kata dan struktur kalimat yang mampu menyampaikan gagasan secara objektif. Terwujudnya sifat objektif tidak cukup dengan hanya menempatkan gagasan sebagai pangkal tolak. Sifat objektif juga diwujudkan dalam penggunaan kata. Kata-kata yang menunjukan sifat subjektif tidak digunakan.
Kata-kata yang menunjukan sikap ekstrem dapat memberi kesan subjektif dan emosional. Kata-kata seperti harus, wajib, tidak mungkin, pasti, selalu perluu dihindari. Hindari        kata-kata yang menunjukan sifat subjektif, seperti :
Dari paparan tersebut kiranya dapat disimpulkan:
         Ringkas dan padat
Ciri ringkas dalam bahasa tulis ilmiah direalisasikan dengan tidak adanya unsur-unsur bahasa yang tidak diperlukan. Hal itu berarti hemat dalam penggunaan bahasa ilmiah. Sementara itu, cirri pada merujuk pada kandungan gagasan yang diungkapkan dengan unsur-unsur bahasa itu. Karena itu, jika gagasan terungkap sudah memadai dengan unsur bahasa yang terbatas tanpa pemborosan, ciri kepadatan sudah terpenuhi. Dengan demikian, cirri ringkas dan padat tidak dapat dipisahkan.
         Konsisten
Unsur bahasa dan ejaan dalam bahasa tulis ilmiah digunakan secara konsisten. Sekali sebuah unsure bahasa, tanda baca, tanda-tanda lain, dan istilah digunakan sesuai dengan kaedah, semua itu digunakan mengantar tujuan dan kata tugas bagi mengantar objek.
Ragam bahasa merupakan variasi penggunaan bahasa. Ragam bahasa dapat dibedakan berdasar pada (a) pokok pembicaraan, (b) media yang digunakan, dan (c) hubungan antara komunikator dengan komunikan. Selanjutnya dalam tulisan ini hanya akan dibahas ragam bahasa dari sudut  media yang digunakan yakni ragam bahasa tulis dan dari sudut hubungan antara komunikator dengan komunikan.Dilihat dari hubungan komunkator dan komunikan, perbedaan ragam bahasa tulis dan ragam lisan ada dua macam. Pertama berhubungan dengan peristiwanya, yakni bila digunakan ragam tulis partisipan tidak berhadapan secara langsung. Akibatnya bahasa yang digunakan harus lebih jelas sebab berbagai sarana pendukung yang digunakan dalam bahasa lisan seperti isyarat, pandangan dan aggukkan tidak dapat digunakan. Itulah sebabnya mengapa ragam tulis lebih cermat.       contoh : Untuk mengatasi penumpang yang melimpah menjelang dan usai lebaran, pengusaha angkutan dihimbau mengoprasikan semua telah disiapkan kendaraan ekstra.
         Pada ragam tulis, fungsi subjek, predikat, objek dan keterangan serta hubungan antar fungsi itu harus nyata. Pada ragam lisan partisipan pada umumnya bersemuka sehingga fungsi-fungsi itu kadang terabaikan. Meskipun demikian, mereka dapat saling memahami maksud yang dikemukakan karena dibantu dengan unsur paralinguistik. Orang yang halus rasa bahasanya sadar bahwa kalimat ragam tulis berbeda dengan ragam ujaran. Oleh karena itu, sepatutnya mereka berhati-hati dan berusaha agar kalimat yang ditulis ringkas dan jelas. Bentuk akhir ragam tulis tidak jarang merupakan hasil beberapa kali penyuntingan. Hal kedua yang membedakan ragam tulis dan lisan berkaitan dengan beberapa upaya yang digunakan dalam ujaran, misalnya tinggi rendah, panjang pendek, dan intonasi kalimat yang tidak terlambang dalam tata tulis maupun ejaan. Dengan demikian, penulis perlu merumuskan kembali kalimatnya jika ingin menyampaikan jangkauan makna yang sama lengkapnya. Lain halnya dengan ragam lisan, penutur dapat memberikan tekanan atau jeda pada bagian tertentu agar maksud ujarannya dapat dipahami. Jadi, ragam bahasa tulis memiliki karakteristik khusus dibandingkan ragam bahasa lisan. Karakteristik tersebut adalah
(1) ragam bahasa tulis memiliki banyak penanda metalingual,
 (2) kalimat berstruktur lengkap, dan                                      
 (3) klausanya sederhana tetapi memiliki kepadatan kata dan isi.
Contoh : Nilai etis sebagaimana tersebut pada paparan di atas menjadi pedoman dan dasar pegangan hidup dan kehidupan bagi setiap warga Negara Indonesia.

B.     Menggunakan Paragraf Yang Benar
  Banyak ilmuan Indonesia tak dapat mengunakan paragraph secara efektif. Kegagalan ini terjadi karena tida dipahaminya fungsi paragraf sebagai pemersatu kalimat yang koheren serta berhubungan secara sebab dan akibat menjelaskan suatu kesatuan gagasan atau tema. Oleh karena itu, sering dijumpai tulisan sukar dipahami, sebab tidak jelas pemisahan bagian-bagiannya dalam menghasilkan argument yang menyakinkan. Kesulitan seseorang memulai menulis juga disebabkan oleh tidak diketahuinya adanya fungsi paragraph pembuka, paragraf penghubung, serta paragraph penutup.
  Dapat diduga, keberhasilan penguasaan paragraph sangat ditentukan oleh kerapian penempatan kalimat yang tepat dalam paragraph. Karena itu, perlu diidentifikasi kalimat pokok suatu paragraf yang menentukan jiwa keseluruhan paragraf. Kalimat pokok ini dapat diletakkan di awal, ditengah, atau pun sebagai penutup paragraf. Kalimat pendukung dapat disusun untuk menjelaskan labih lanjut kalimat pokok yang dijadikan pembuka paragraf. Kalimat pendukung dapat dibuat bertumpuk menuju suatu simpulan laogis yang terpumpun dalam kalimat penyimpul pada akhir paragraf.
  Setiap penulisan harus dapat mengendalikan panjang paragraf berdasarkan beberapa pertimbangan yang ditentukan oleh masalah yang ditulis.  Paragraf pendek mudah dipahami, dan efektif, namun ada ahli yang menyarankan, jangan terlalu sering memakai paragraf pendek. Penampilan paragraf dalam halaman juga perlu di perhatikan, sebab satu paragraf yang panjang dan memenuhi seluruh halaman tidak menggalakkan pembacaan.
      Menurut basuki penggunaan paragraph di dalam artikel ilmiah memiliki tiga syarat yaitu:
Kesatuan
Kesistematisan dan kelengkapan
Kepaduan.
Suatu paragraf dinyatakan memenuhi syarat kebutuhan apabila paragraph itu hanya mengandung suatu gagasan pokok. Gagasan itu dinyatakan dalam kalimat topic. Dalam artikel ilmiah kalimat topic biasanya terletak pada awal pargraf.
Ide pokok dan ide-ide penjelas dalam paragraf yang baik ditata secara sisitematis. Pengurutan ide dalam suatu paragraf dapat dilakukan dengan cara, yaitu secara alamiah dan secara logis. Urutan alamiah berupa urutan waktu (kronologis) dan ruang (sudut pandang), sedangkan urutan logis urutan klimaks-antiklimak, sebab-akibat, umum-khusus, pokok rincian, dikenal tidak dikenal, dan mudah-sulit.
  Kalimat pokok yang mengandung ide pokok harus dikembangkan dan dijelaskan agar dapat terbentuk sebuah paragraph. Pengembangan itu seharusnya digarap secara lengkap agar pembaca tidak bertanya-tanya lagi setelah membaca paragraph yang telah dikembangkan. Perbedaan antara kesatuan dan kepaduan bahwa, kesatuan lebih banyak beruhubungan dengan ide-ide bawahan yang mendukung ide-ide pokok paragraph. Jika ide bawahan mendukung ide pokok, maka paragraph dapat dikatakan tidak memiliki kesatuan. Kepaduan lebih banyak berhubungan dengan penataan dan penyusunan ide bawahan untuk menompang ide pokok paragraph. Jika susunan dan tataan ide pokok dalam paragraph besifat runtut maka paragraph dapat dikatakan memiliki kepaduan. Jika ssusunan dan tataan ide pokok dalam paragraph bersifat kacau, maka paragraph dapat dikat
C.    Kesalahan Umum Pemakaian Bahasa Indonesia Dalam Artikel Ilmiah
      Kesalahan pemakaian bahasa Indonesia dalam artike ilmiah pada umumnya berkaitan dengan sebagai berikut :
         Kesalahan penalaran
      Kesalahan penalaran yang biasa terjadi dibedakan menjadi dua yaitu penalaran intrakalimat dan kesalahan antar kalimat. Kesalahan intrakalimat tampak dari adanya hubungan logis antar elemen/antar bagian kalimat sebagaimana contoh berikut :
Dengan penelitian ini dapat meningkatkan kretivitas mahasiswa
Berdasarkan uraian diatas menunjukan pentingnya pendidikan orang dewasa.
Hubungan pokok dan penjelas atau subjek dan predikat pada kalimat (1) (2)   tidak jelas sehingga kedua kalimat itu dapat dikategorikan kalimat yang tidak bernalar. Karena kalimat (1) tidak tau apa yang dibicarakan, apa yang dapat meningkatkan kreativitas mahasiswa. Jawabannya tentu bukan dengan penelitian ini. Demikian juaga pada kalimat (2), apa yang menunjukan pentingnya pendidikan orang dewasa. Jawabanya tentu bukan berdasarkan uraian di atas. Hal itu dapat terjadi karena kalimat (1) dan (2) tidak memiliki pokok dan subjek.  Kesalahan penalaran antarkalimat tampak pada tidak log            Kesalahan penalaran yang biasa terjadi dibedakan menjadi dua yaitu kesalahan isnya hubungan kalimat satu dengan kalimat yang lain dalam membentuk teks.
  Problema utam pengelolaan jurnal ilmiah adalah kelangkaan naskah dan kelengkapan dana. Oleh sebab itu, naskah perlu dikelola secara professional. Pengelolaan yang prfesional akan menjadikan sebuah jurnal menjadi berkilau.
         Kerancauan
Kerancauan terjadi karena penerapan dua kaidah atau lebih. Kerancauan dapat dipilah atas kerancauan bentuk kata dan kerancauan kalimat. Kerancauan bentukan kata terjadi apabila dua kaidah bentukan diterapkan dalam sebuah bentuk kata. Kerancauan itu muncul pada saat penulis kebingungan terhadap kaidah yang dipakai dalam sebuah kalimat. Kerancauan juga sering terjadi pada redaksi perujukan. Penulis sering bingung terhadap redaksi rujukan yang berpola menurut. contoh :
Memperlebarkan-Memperlebar. Dan lain sebagainya <> dan lain-lain / dan sebagainya
         Pemborosan
  Pemborosan timbul apabila ada unsure yang tidak berguna dalampenggunaan bahasa. Pengujiannya dapat dilakukan dengan teknik penghilangan. Apabila sebuah dihilangkan dan gagasan yang diunggkapkan tidak terganggu, maka unsur tersebut dapat dikategorikan unsur yang mubazir. Pemborosan dapat terjadi pada kata-kata dan kalimat bahkan mungkin paragraf.
  Pemborosan kalimat dapat terjadi apabila suatu kalimat tidak memiliki fungsi mengungkapkan gagasan. Gagasan kalimat itu sudah terwadahi dalam kalimat sebelum atau          sesudahnya      .           contoh
Data yang digunakan untuk menjawab semua permasalahan yang ada dalam penelitian ini dapat dipilah menjadi dua, yaitu data utama dan data penunjang.
         Ketidaklengkapan kalimat
  Sebuah kalimat dikatakan lengkap apabila setidak-tidaknya memiliki pokok dan penjelas atau subjek dan prediket. Kemungkinan kamimat menjadi tidak lengkap terjadi karena penulis mampu mengendalikan gagasan yang kompleks.
         Kesalahan kalimat pasif
Kesalahan pembentukan kalimat pasif yang sering dilakukan para penulis adalah kesalahan pembentukan kalimat pasif yang berasal dari kalimat aktif intransitif. Kalimat aktif intransititif tidak bisa diubah menjadi kalimat pasif dengan tepat mempertahankan maknanya. Paragraf yang baik memperhatikan fakta kesatuan topik. kepaduan bentuk-makna, dan kelengkapan gagasan. Satu paragraf hanya menyajikan satu topik atau satugagasan, tidak boleh lebih. Kalimat-kalimat dalam paragraf dapat diikat dengan katahubung, kata ganti, atau kata kunci. Kalimat-kalimat tersebut harus saling mendukungkesatuam gagasan. Kalimat topik paragraf harus dirinci dengan beberapa kalimat penjelas.Paragraf yang hanya terdiri atas satu kalimat topik harus dihindari.Paragraf 1 dan paragraf 2 merupakan paragraf yang tidak baik. Paragraf 1hanya terdiri atas satu kalimat topik. tanpa ada kalimat penjelas. Paragraf 2 memuat dua gagasan yang berbeda. Oleh karena itu, paragraf 1 harus dikembangkan dengan beberapa kalimat penjelas. Dua kalimat topik pada paragraf 2 masing-masing harus dikembangkan menjadiparagraf baru yang terpisah.
               Perguruan tinggi baik negeri maupun swasta di mana perguruan tinggi sebagai
pembinanya merupakan lembaga pendidikan tinggi yang memiliki tingkat
tanggung jawab lebih besar dibandingkan dengan lembaga pendidikan lainnya
dalam mengubah sumber daya manusia Indonesia menjadi sumber daya yang
mampu bersaing di tingkat internasional.
   Dalam menghadapi era globalisasi saat ini dan di kemudian hari peranan sumber daya manusia suatu bangsa sangat menentukan keberhasilan bangsa tersebut untuk bersaing dengan bangsa-bangsa lainnya di dunia. Kualitas sumber daya manusia suatu bangsa sangat ditentukan oleh bagaimana sumber daya manusia tersebut dididik baik oleh lingkungannya maupun oleh lembaga pendidikan mulaisekolah dasar sampai perguruan tinggi untuk menjadi sumber daya manusia yang unggul dalam menghadapi persaingan.         

               Menulis Kalimat yang Tidak Utuh
Bahasa karya ilmiah Bahasa Indonesia yang baku menurut standar ilmiah yang mengacu pada Kamus Umum Bahasa Indonesia, Ejaan Yang Disempurnakan, Pedoman Umum Pembentukan Istilah dan suplemen-suplemen terbaru. Menulis karya ilmiah yang komunikatif sangat penting agar tujuan yang ingin disampaikan dapat dipahami dengan jelas dan jernih.
        
Beberapa kesalahan kalimat, yang disebabkan oleh :
               Menulis kalimat yang tidak utuh
               Pemakaian bentuk kata yang rancu
               Pemakaian keterangan yang tidak lengkap
               Urutan kata yang menyalahi aturan berbahasa Indonesia
               Pemakaian kata atau ungkapan penghubung yang tidak tepat
               Pemakaian bentuk dan pilihan kata yang tidak cermat.

D.    Pemilihan Kata Dan Istilah
  Seorang terpelajar diharapkan menguasai kosakata umum serta seperangkat peristilahan bidang ilmu yang ditekuninya. Ia pun diharuskan mengetahui tata pertimbangan, akronim dan singkatan, beserta satuan ukuran yang lazim dipakai oleh bidang spesialisasinya. Pemakaian kosa kata dan peristilahan terpilih menentukan corak dan mutu keteknisan tulisannya. Semakin tinggi jumlah kosakata yang dipakai berarti bertambah banyak istilah teknisnya sehinggan semakin ilmiah sifat tulisan.
  Perbaikan khazanah kosakata dapat dicapai dengan jalan banyak membaca, lalu mempelajari kata kata yang sulit dengan pertolongsn kamus. Jika kita melihat kata hutan dalam kamus, akan terungkap beberapa macam makna yang dimilikinya. Jadi dengan bantuan kamus umum dan kamus istilah, akan dapat dketahui jenis, medan makna, variasi, cara pemakaian dan penjabaran kata untuk kemudian dipahami dan dikuasai dengan baik.
Kata memiliki medan makna dengan corak, nuansa, dan kekuatan yang berbeda-beda misalnya :Salah, Kurang tepat, tidak benar, keliru, semuanya memiliki makna yang sama tetapi penggaruh pemakaiannya amat berlainan. Juga misalnya kata-kata yang bersinonim : ongkos, sewa, upah, belanja, biaya, anggaran.
Contoh lain : kata hutan dapat berfungsi sebagai kata benda (hutan jati), kata kerja (menghutankan), atau kata sifat (menghutan, ayam hutan).
  Pemekaran jumlah kosa kata yang dikuasi seseorang akan memungkinkannya mengatasi salah satu kendala utama dalam menulis, yaitu menemukan kata yang tepat. Kamus umum, kamus sinonim, thesaurus dan kamus istilah yang paling tebal yang dapat ditemukan, harus selalu tersedia di samping dan penyuntingan. Berbekalkan semua sarana penolong ini dapat tumbuh kemampuan mengukur kekuatan, ketelitian memilih, dan kepiawaian menyusun kata, yang akan menghasilkan tulisan ilmiah yang hidup dan berpotensi menjadi sebuah adikarya.

E.     Penataan Kalimat
           Kalimat Indonesia mempunyai sifat pendek, pasif, dan sederhana. Susunannya sering dapat diputarbalikan dengan mempermutasikan tempat kata-katanya tanpa mengubah artinya, kecuali dalam penekanan pemaknaan pesannya. Seperti bahasa lain didunia, rangkaian kata Indonesia terkait akan menghasilkan frasa, yang mungkin berkembang menjadi klausa sebagai bagian suatu kalimat yang lebih kompleks strukturnya. Betapa pun panjang atau pendek susunan kata yang terlibat, kamlimat yang dihasilkan akan dikatakan baik kalau memilki kesatuan pikiran yang bulat dan utuh, serta terdapat koherensi unsurnya. Oleh karena itu, kalimat yang sempurna akan mampu berdiri sendiri terlepas dari konteksnya, serta mudah dipahami maksudnya. Kalimat seperti ditemuka dalam suatu makalah perencanaan wilayah yang berbunyi ‘’ Terhadap jalan yang lebih lebar ukurannya dan jumlah pohon peneduhnya berbeda caranya’’ bukanlah merupakan contoh untuk ditiru. Kallimat tersebut tidak efktif sebab tidak dapat menjelaskan secara lugas jalan pikiran penulisnya.
  Kalimat bahasa Indonesia yang baku mempunyai cirri-ciri selalu dipakai perangkat kabahasaan berikut secara tegas dan bertaat asas.
            Subjek dan predikat – ( para peneliti pergi ke lapangan percobaan vs para peneliti ke lapangan percobaan )
            Awalan ber- dan me – ( Peneliti sudah berjalan dengan baik vs penelitian sudah jalan dengan baik )
            Konjungsi bahwa dan karena – ( Disadari bahwa data belum terkumpul semua vs Disadari data yang belum terkumpul semua )
            Pola aspek + agen + verba – ( pernapasan daun sudah saya amati vs pernapasan daun saya sudah amati )
            Konstruksi sintaksis - (harganya vs dia punya harga, membersihkan vs bikin bersih)
            Partikel –kah  dan pun – ( bagaimanakah cara menarik kesimpulan? Selain penelitian partisipasi, percobaan lapangan pun dilakukan pula olehnya )
            Ejaan, kosakata, istilah resmi sehingga diperoleh kalimat yang bersih dari unsure daerah dan bahasa asing yang belum dianggap merupakan warga bahasa Indonesia.
Penjagaan kebersihan kalimat bahasa Indonesia baku dari kontaminasi unsure asing mudah dilakukan kalau hanya menyangkut penggunaan istilah asing secara utuh (misalnya penggunaan pink ditempat jambon, atau marketing alih-alih pemasaran ). Akan tetapi penyiangan yang lebih harus dilaksanakan kalau dihadapi penerapan kaidah tata bahasa asing dalam kalimat Indonesia.
Kekurang cermatan pemahaman fungsi kata dalam kalimat sering menghasilkan kalimat yang rancu. Bentuk ‘’Penalaahan ini membicarakan tentang kerusakan pascapanen’’ tidak merupakan susunan kalimat yang baik, sebab pernyataan itu harus dikatakan ‘’penelaahan ini membicarakan kerusakan pascapanen’’. Kalau mau juga menggunakan kata tentang tulislah menjadi bentuk ‘’Telaahan ini berbicara tentang kerusakan pascapanen’’. Kesalahan lain yang sering dijumpai adalah penalaran yang tidak logis.
   Keefektifan kalimat akan ditingkatkan jika kita mampu mencari variasi pemilihan kata serta keragaman konstruksinya. Penetapan kata atau ungkapan yang tidak biasa pada posisi yang tepat dapat membuat kalimat lebih segar. Begitu pula dilakukannya repetisi (alat berkembang biak, alat infeksi, alat pemencaran) dan pertentangan (tidak jauh ke air, tetapi ke tanah) akan menghidupkan kalimat. Karena kalimat Indonesia tidak selamanya harus dimulai oleh subjek, peluang yang terbuka member kemungkinan membut variasi untuk menjauhi kemonotonan. Keterangan tempat dan waktu, partikel penghubung, kata kerja dan frasa lain dapat ditampilkan secara bersilih ganti sebagai pembuka kalimat-kalimat beruntun.
  Kalimat dapat lebih efektif bila beberapa kalimat pendek digabung, dan bagian-bagian yang setara disejajarkan atau dipertentangkan atau disusun dengan menekankan hubungan sebab-akibat. Akan tetapi penggabungannya harus dilakukan secara berhati-hati agar tidak terjadi ekses sehingga kalimat menjadi berkepanjangan, dan maksudnya tidak langsung dapat ditangkap. Untuk itu, tanda baca yang tersdia hendaklah dimanfaatkan sepenuhnya. Akan tetapi perlu ditekankan sekali lagi bahwa suatu kalimat yang terlalu banyak memakai tanda baca umumnya menunjukan keperluan untuk menulisnya kemballi.

F.      Penumbuhan Gaya
Pada dasarnya, terdapat tiga gaya bahasa yang berturut-turut dipakai untuk mengungkapkan luapan perasaan atau emosi yang sering tak terkendali, menyatakan kemauan secara otoriter atau imperatif, dan menyampaikan hasil pemikiran yang berasio. Ilmu memang menghendaki keteraturan dan kemapanan penalaran yang mengharuskan dilakukannya perumusan konsep-konsep secara ketat sehingga hanya terjadi suatu pegertian tunggal.
  Sudut pandang dan pendekatan pada masalah yang menjadi inti tulisan dapat memengaruhi gaya yang di anut. Sifat kerendahan hati dan jiwa ketimuran yang dijunjung tinggi orang Indonesia telah  menyebabkan membakunya pemakaian kalimat pasif. Penggunaan kalimat pasif dalam tulisan ilmiah memang memiliki keuntungan karena terpakainya orang ketiga sebagai pelaku, sehingga mudah menceritakan kegiatan yang sering terjadi secara objektif tanpa kesan berpihak. Penggunaan orang kedua, baik yang dinyatakan secar tegas maupun tidak dituliskan, sangat sesuai dengan dalam penulisan buku pegangan, untuk memberikan pengarahan, petunjuk atau bimbingan yang bergaya imperative. Kalimat aktif yang bertumpu pada orang pertama merupakan cara paling alamiah untuk mengungkapkan kegiatan yang sudah dilakukan, terutama yang memerlukan kesubjektifan.
  Pola ini sangat membudaya didunia barat, yang sangat menghormati hak-hak individu bagi mereka sangatlah penting untuk menonjolkan hak cipta, hak kepengarangan, dan hak kepemilikan intelektual suatu trobosan dalam pemancuan ilmu dan teknologi modern. Dalam kaitan ini wacana yang dipakai sebagai pendekatan untuk menyampaikan wujud jiwa karangan ikut memengaryhi corak gaya penyajian dan penulisannya. Karya ilmia umumny disajikan dengan bentuk paparan atau eksposisi dengan mengetengahkan segala segi persoalan yang diadapisecara teratur, logis, dan saling bertautan secara objek. Akan tetapi sebagai latar belakang fakta-fakta pendukung sering perlu diperhatikan atau dideskripsikan seandainya dan setepatnya. Bahkan terkadang diperlukan pengisahan atau narasi untuk memperjelaskan rentetan perkembangan seputar persoalan yang dihadapi secara kronologi. Pola argumentasi bisa dipakai dalam membahas hasil yang disentesis dari rangkaian kegiatan penelaahan, pengamatan atau penelitian untuk penggiring pembaca ke suatu simpulan dan pendapat yang dikembangkan penulis. Dari sini terlihat bahwa hampir semua bentuk wacana terjalin sangat erat sehigga keefektifan penguasaannya sangat menentukan keberjayaan gaya yang membuahkan karya ilmia yang dihasilkan.
  Gaya beremosi memang selalu disarankan agar dihindari dalam karya ilmiah, apalagi kalau dipakai untuk menyakinkan pembaca akan keunggulan temuan atau kelebihan simpulan yang dicapai. Oleh karena itu, jauhilah ungkapan seperti ‘’ simpulan amat berarti’’, atau ‘’ hasil yang sangat bermakna’’. Alih-alih menyatakan bahwa yang akan diceritakan itu menarik, buatlah hal itu betul-betul menarik.
                    











                                                            BAB III
                                                          PENUTUP

                     Kesimpulan
Pengguna bahasa dalam artikel ilmiah memiliki gaya dan sistematika yang berbeda dengan jenis tulisan lainnya seperti buku, skripsi, dan sebagainya. Menulis artikel ilmiah dapat diumpamakan seperti sebuah bangunan yang akan didirikan menurut rancangan atau desain yang telah ditentukan. Proses penulisannya mengunakan syarat-syarat dan karakteristik ragam bahasa. Sebagai bahasa standar, ada aturan-aturan tata bahasa dan pedoman ejaan yang perlu diikuti. Standar berbahasa yang perlu diperhatikan dalam ragam bahasa ini meliputi pemilihan kata yang tepat, dan efektif, kepaduan paragraf, dan pedoman penulisan.

      Saran
   Suatu pembuatan teknik penulisan karya ilmiah harus sesuai dengan relita dan kami sadar bahwa penyusunan  karya ilmiah ini kurang sempurna. Maka dari itu kami mohon kritikan dan saran dari teman-teman semua. Agar kedepannya kami bisa lebih baik lagi.

                                                                               







DAFTAR PUSTAKA

         Tanjung. Nut Bahdin. Dan Ardial. 2005. Panduan karya ilmiah. Jakarta : Penerbit Kencana Pernada Media Group.
         Utoredewo, fellcia N. (2003) : Makalah Materi Bahasa Indonesia: Sebuah Pengantar Penulis Ilmiah.
         Rifal, Mlen A. (1995) : pegangan Gaya Penulis, Penyuntingan, dan Penebitan Karya Ilmiah Indonesia. Yogyakarta. Gajah Mada University Press.